TIDAK PINTAR DI KELAS BELUM TENTU TIDAK CERDAS

TIDAK PINTAR DI KELAS BELUM TENTU TIDAK CERDAS

Dunia kelas adalah dunia yang terbatas, sehingga anak-anak yang tidak cerdas disekolahnya, belum tentu tidak cerdas di luar sekolah, karena sesungguhnya kecerdasan itu beragam yang semuanya tidak bisa didapatkan didalam kelas.

Seorang anak yang cerdas dalam bidang sains belum tentu cakap dalam berkomunikasi dan berinteraksi, pelajar yang selalu juara dalam di kelasnya belum tentu pandai dalam hal kesenian, kalau meminjam istilah AlQuran “ كل يعمل على شاكلته” Setiap orang itu bekerja sesuai dengan bakat dan potensi “.

Semua manunia itu di lahirkan untuk cerdas, tugas kita lah mencari di mana letak kecerdasan kita. Pepatah Arab mengatakan “هلك امرئ من لم يعرف قدره “hancur seseorang yang tidak mengetahu kedudukannya“.

Semua anak itu pintar, maka menjadi tugas orang tua untuk mencari dimana letak kecerdasannya. Semua murid itu cerdas, dan kewajiban guru memunculkan kecerdasannya yang tersembunyi itu.

KH Abdullah Syukri Zarkasyi menasihati para santrinya “Apa yang kamu baca, apa yang kamu lihat dan apa yang kamu rasakan di Gontor ini semuanya adalah pendidikan “.

Sehingga para santri yang terlihat biasa biasa saja di Gontor, ketika keluar dari Gontor menjadi luar biasa. Saya jadi teringat perkataan KH Imam Badri Rahimahullah “Jika anda belajar sungguh-sungguh di luar sebagaimana anda belajar di Gontor, maka anda akan menjadi juara di luar sana“.

Saya punya teman yang kelasnya adalah fashl tahet (kelas bawah istilah Arab gontor), tetapi begitu takjubnya saya ketika ia mendapatkan beasiswa ke Australia, ada juga teman saya yang mujiddin ( listilah untuk anak Gontor yang ngak naik, tetapi di geri belar mujiddin “orang yang bersungguh sungguh,dengan tujuan agar mereka semangat), tetapi sekarang sudah menjadi Doktor, sedangkan ada teman saya yang mumtaaz (cumlaude ), tetapi tidak kemana mana bahkan hanya menjadi pegawai kantoran biasa (maaf bukan maksud merendahkan ,tentunya semua pekerjaan adalah berkah asalkan halal)

Ada juga cerita tentang KH Hamam Zafar Rahimahullah, konon ceritanya beliau sampai 12 tahun di Gontor karena sering tidak naik kelas, namun selesai dari sana beliau mendirikan pondok pesantren Pabelan yang banyak melahirkan tokoh diantaranya Prof Dr Komarudin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatulla Jakarta )

Manfaatnya orang-orang yang biasa saja ketika didalam kelas, namun menjadi luar biasa ketika di luar kelas adalah juga karena faktor keberkahan ilmu, doa orang tua dan tanda manfaatnya ilmu.

Karenanya sebagai orang tua jangan hanya minta anak-anak kita cerdas, tetapi mohonlah agar ilmunya bermanfaat dan berkah, seorang yang cerdas tetapi tidak berkah ilmunya maka ia akan semakin jauh dari kebenaran.

Nabi saw bersabda “ من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعدا” “Siapa yang bertambah ilmunya namun hidayah tidak bertambah kepadanya ,maka ia akan semakin jauh dari Allah“

Nabi saw mengajarkan kita agar senantiasa berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, seraya berdoa “ اللهم إنى أعوذبك من علم لا ينفع “ Ya Allah saya berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Karenanya engkau ayah dan Ibu.. janganlah terlalu bangga jika anak mu cerdas, namun khawatirlah jika ilmunya tidak bermanfaat.

Wahai ayah bunda, janganlah cemas jika melihat nilai rapor anakmu tidak telalu memuaskan, insya Allah doamu membuat ilmunya bermanfaat untuk banyak orang walau ia hanya anak yang biasa biasa saja di kelasnya.

Imam Syafii berkata “ العلم ليس ما حفظ ولكن كن ما نفع “Ilmu itu bukan seberapa banyak yang di hafal tetapi sejauh mana yang memberikan manfaat“

Awal awal kami menginjakkan kaki di Darussalam Gontor, para asatidz di kelas pun mengajak kami untuk memekikkan syair dengan keras dimana kata mutiara itu masih tersimpan dengan rapi dalam ingatan kami yaitu “ العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر “ Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.

Karenanya mari berkahkan ilmu kita dengan mengamalkannya bukan hanya dengan mengetahuinya, menjadi pintar itu mudah namun menjadi pribadi yang berakhlak mulia membutuhkan kesungguhan dan waktu yang lama dari hanya sekedar pintar di kelas.

Mau cerita sedikit, saya juga bukan orang yang pinter-pinter amat, waktu SD kelas satu pernah tidak naik, ketika daftar Gontor juga tidak langsung lulus sehingga harus kepondok Arrisalah selama satu tahun, ketika di Gontor pun tidak pernah kelas B ( kelas untuk anak anak cerdas ), malah kelas saya merosot terus, dua M, tiga c, 4 d, 5e dan enam F. Ketika lulus pun predikat di Ijazah hanya Jayyid “ (baik), namun Alhamdulilah sempat dapat beasiswa Al Azhar, namun tidak selesai karena sakit, lalu lanjut ke UIN Syarif Hidayatullah, Alhamdulillah bisa cumlaude padahal di Gontor saya biasa-biasa.

Alhamdulilah walau nilai biasa-biasa, saya di undang jamaah ceramah dan taklim kemana-mana hingga mancanegara, dan Alhamdulilah Jamaah juga ngak pernah nanya, ustadz dulu di Gontor kelas apa? Nilainya berapa? Pernah ngak naik kelas ya?

Alhamdulillah semua ini karena Allah, semoga ilmu yang sedikit ini berkah dan manfaat hingga jiwa ini berlepas dari raga dan bertemu pemilik seru sekalian alam ini.

Oleh: Faisal Kunhi
Repost: Rumah Dakwah Indonesia


anakcerdas

anakpinter

parenting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *